Diary MisDut : It Happened :/

image

Foto diatas sebaiknya dilihat dibawah pengawasan orang tua :3 Hah… akhirnya Misty birahi. Full. Setelah beberapa waktu kemarin dia suka berguling2 genit tapi masih galak kalo dideketin Cindut. Hari ini, ceritanya lain. Dia menyerahkan diri dengan sukarela. Ciri2 perkawinan pun tampak. Kaki belakang Misty bergerak di tempat saat di-mount tapi nggak berusaha kabur. Cuma menggeram2 gitu aja. Terus, setelah proses selesai, Misty bakal guling2 luar biasa, dan kaki belakangnya tampak seperti lemah. Setelah cari2 referensi, katanya kucing betina butuh menjatuhkan telur ke sperma yang ditinggalkan jantan. Makanya guling2. Tapi apa iya? :/ Teori yang agak janggal. Well, perkawinan ini berlangsung berkali2 sampai malam dan sudah tidak bisa dicegah lagi.

Tentu saya kuatir. MisDut adalah saudara, yang berarti ini perkawinan incest (,,#゚Д゚). Lalu, mereka berdua belum masuk umur yang cukup untuk jadi orang tua. Jadi, sekarang, saya cuma berharap -kalau memang Misty hamil- kandungannya sehat, langsar lungsur, anak2nya bakal sehat, dan dia bisa jadi ibu yang baik. Aamiin.

Kami memang sangat suka kitten dan sudah tidak sabar mendapatnya dari Misty, tapi ini diluar rencana. Tadinya kami mau mencarikan betina untuk Cindut supaya dia berhenti mengejar2 Misty dan tidak terjadi perkawinan yang tidak diinginkan. Tapi, eh… sebelum nemu betina, udah keburu kejadian. Ya sudahlah… hiks. Mereka memang tidak pernah dipisah apalagi dikandang, selalu bebas main sama2 di seluruh penjuru rumah. Jadi kalau ada yang harus disalahkan, itu adalah kami sebagai staff mereka (シ_ _)シ

Mencintai Sewajarnya

image

Saya sayang kucing-kucing saya. Tapi juga masih cukup waras untuk membuat batasan yang jelas tentang siapa mereka, dan siapa saya. Tentu ada alasannya kenapa pemilik kucing disebut “her human”, supaya mereka tidak mencampuradukkan nature satu sama lainnya.

Beberapa hari lalu, saya memutuskan untuk tidak lagi jadi bagian dari sebuah grup pecinta kucing. Padahal hampir setiap hari saya berdiskusi panjang lebar disana mulai dari kutu sampai panleukopia. Tapi kemudian beberapa posting mulai jadi disturbing buat saya pribadi. Seperti… ah, ga tega nulisnya. Seperti… menyusui kitten yang ditinggal induknya, merelakan diri hanya makan dengan garam demi membeli sekantong Royal Canin, atau debat kusir tentang ras akibat fanatisme pada satu jenis tertentu. Ya, rasis juga ada di dunia perkucingan. Apa guna? Kucingnya aja ga mempermasalahkan bulu mereka panjang atau pendek, hidung mereka pesek atau mancung, mereka datang dari keturunan apa… kenapa manusianya yang jadi ribut? #plisatuhlah . Dan banyak lagi yang bikin saya bergidik sekaligus nepok jidat. Ya sudahlah, daripada terganggu, saya keluar saja.

Kucing memang menginvasi dunia manusia. Mereka yang tidak suka kucing akan bilang mereka cuma binatang pemalas yang tidak bermanfaat. The truth is, kucing memang akan menjadikan manusia staff mereka. Menyerok kotoran, mengisi mangkuk makan dan minum, menyisir bulu mereka dua hari sekali, membuatkan ranjang yang nyaman, memilihkan shampoo dan dokter terbaik.. lalu sebagai balasannya, mereka menggaruk furnitur, memecahkan pajangan, meninggalkan bulu di baju kesayangan, dan mengeong semalaman. Tapi, sungguh, mereka terlalu lucu untuk tidak dilayani dan dimaafkan. Hiks. Mereka membuat mood buruk jadi baik, dan percaya atau tidak – mereka bisa merasakan suasana hati. Kalau pemiliknya sedih, si meong akan datang menemani sambil menatap dengan mata lucunya. Awwhhh…

Saya sering memanggil Chiko & Misty dengan sebutan “nak”. Tapi saya tetap ibu hanya untuk Ayesha. Saya juga sering mengingatkan Esha kalau dia sudah mulai berlebihan tentang menganggap kucing-kucing kami adiknya. Boleh cinta, tapi jangan sampai buta.

Perfume (2006)

image

Telat banget, baru nonton filmnya sekarang. Bukunya mah udah, excerpt-nya aja tapi *plak*.

Kita semua pasti setuju bahwa aroma bisa membangkitkan kenangan. Indra penciuman kita begitu hebat sampai bisa menggali memori yang bahkan sudah begitu dalam tertimbun. Saya suka bau kertas, dan secara spesifik jenis kertas dan tinta tertentu akan membawa saya ke jalan Banceuy di sore akhir pekan saat masih SMA untuk berburu majalah impor dengan harga super miring. Bau pemoles marmer mengingatkan saya pada masa awal kehamilan yang penuh morning sickness. Daaannn banyak lagi bau-bauan dan kenangan lainnya.

Ibu saya selalu ingin bisa menyimpan bau bayi ke dalam botol, dan inilah Perfume.

Jean-Baptiste dilahirkan di pasar dan dikaruniai penciuman yang maha dahsyat. Dia tau aroma dari tiap benda di dunia. Besi, lumut, kodok, endorfin… you name it. Diantara semua aroma, kulit wanita tertentu punya wangi yang paling dia suka. Membuat dia tergila-gila dan keukeuh untuk mengawetkannya dalam botol. I would understand. Aroma kulit memang sangat enak. Kulit sejati. Tanpa sabun, lotion, cologne. Tapi bukan BB juga. Ew. Aroma kulit yang rileks, seperti saat baru bangun tidur, itu enak sekali. Well, Jean-Baptiste melampaui batas waras tentang yang satu ini.

Ini film naratif yang bagus dengan ending yang twisted – untuk mereka yang belum baca bukunya. Tontonlah, kalau belum. It will make you think.

The power of controlling love is the greatest and saddest power altogether.