shorty

Gelap

waktu lagi aduk2 file lama, eh nemu tulisan2 jaman dulu, waktu masih rajin bikin fiksi. hihihi. tapi kebanyakan ga tamat😦 dan pernah kemakan virus dan akhirnya semua jadi hidden file dan terhapus isinya separo😥 hiks. share dikit, ah. kali aja ada yang baca terus ngasih komentar😀

——————————————-

Gelap (2003)

Gelap. Hujan memukul-mukul kaca jendela. Dania berbaring memunggungi laki-laki di tempat tidurnya. Air mata menetes pelan, seirama dengan lelehan air di kaca jendelanya yang diterpa cahaya bulan, telanjang tanpa tirai. Sekarang tubuhnya mulai berguncang halus, tapi tetap membuat kasur pegasnya bergerak-gerak dan membangunkan laki-laki itu.
“Dan…” bisiknya sambil memeluk Dania dari belakang. Tapi lalu ia tersadar dan cepat-cepat bangkit dari ranjang, memakai semua celananya. “Maaf…” katanya panik.
Dania diam.
“Saya tidak sempat lihat jam.” Katanya lagi.
“Tidak apa-apa.” Kata Dania pelan, lelah. “Cuma kecelakaan biasa, tidak akan saya masukkan tagihan. Tenang saja.”
Laki-laki itu menatap punggung Dania, ia ingin sekali merengkuhnya, menghapus air mata yang berlelehan tanpa henti di pipinya. Tapi itu hanya akan memperburuk keadaan, “Saya pulang sekarang, ya?” tanyanya hati-hati.
“Jangan.” Jawab Dania sambil berbalik, matanya sembab dalam cahaya biru. “Masih hujan.”
“Saya bisa naik taksi.”
“Sudahlah. Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak mau disini, kamu bisa nonton tv, tidur di sofa, tapi jangan pulang sekarang. Saya tidak mau kamu pulang basah kuyup dan sakit.” Dania berhenti sebentar, menarik selimut sampai ke dagunya, “Nanti istri kamu repot kalau kamu sampai sakit.” suaranya sangat lirih, berbaur dengan suara angin dan hujan. Lalu ia berpaling lagi menatap keluar.
Tanpa banyak bicara lagi, laki-laki itu cepat memungut pakaian dan ranselnya dari karpet lalu bergegas keluar kamar. Pintu ditutup pelan, nyaris tanpa suara.
Dania memejamkan matanya, meremas ujung sarung bantalnya dan mulai menangis lagi, kali ini sampai terisak-isak dan nafasnya sesak.

Keesokan paginya Dania bangun jam 7. Hidungnya tersumbat. Alarm radionya menyala. Dia meraih kaos dan celana pendeknya dari kursi lalu cepat-cepat keluar. Seperti yang sudah dia kira, ruang tamunya kosong. Ada amplop di meja, dan secarik kertas terlipat.

Selamat pagi, maaf saya tidak pamit. Kamu masih tidur, terlalu nyenyak, dan saya tidak mau bikin kepala kamu pusing karena dibangunkan mendadak hanya untuk tahu saya mau pulang.

Tenggorokan Dania mulai tercekat lagi. Ia mendudukkan dirinya di sofa, menyelipkan anak-anak rambutnya ke belakang telinga dengan gugup.

Maaf tentang semalam. Mungkin seharusnya kamu tidak menyuruh saya tetap tinggal, daripada harus melihat kamu menangis akhirnya.
Dania, kita sama-sama tahu…tadi malam itu yang terakhir, dan kamu tahu kenapa. Do me a favor, Dania, jangan hubungi saya lagi.
– Adit –

Dania tidak berkedip, membaca kalimat terakhir di kertas itu berulang-ulang sampai matanya pedih dan berair. Diremasnya kertas itu lalu dilemparnya. Ia belum pernah selelah ini dalam hidupnya. Rasanya seperti berlari tanpa akhir. Tiba-tiba ia merasa begitu kesepian.

Waktu itu beberapa menit lewat jam 5 sore. Hari Minggu. Dania sedang menunggu popcorn di microwave ovennya mengembang ketika satu pesan masuk ke ponselnya. “saya dapat nomer ini dari teman. fee kamu tinggi sekali, tapi tabungan saya cukup. bisa ‘kan menyelipkan saya di jadwal kamu yang padat?” Dania tersenyum membaca pesan itu. Pertama kalinya ada klien yang menghubunginya lewat sms. Dania meluruskan punggungnya, membalas pesan itu. “malam ini saya sendirian. saya tunggu jam 7” dan Dania mengetikkan alamat rumahnya. Padahal biasanya dia suka mempersulit, jual mahal, mengawali ‘kencan’nya di luar rumah, dan tidak menerima panggilan di hari Minggu. Tapi sekali itu perasaannya lain.
Jam 7. Dania sudah rapi. Musik jazz mengalun, dan ia merasa aneh sendiri. Bel berbunyi. Dengan jantung berdebar, dibukanya pintu. Laki-laki di teras rumahnya tersenyum kaku, diterangi lampu spot di atas pintu yang begitu kuning. Tinggi, besar, rambutnya dipotong crewcut, dan ada goatee di dagunya. “Selamat malam…” katanya ragu-ragu. Suaranya berat dan dalam.
Dania tersenyum, “Ayo masuk.” Katanya sambil membukakan pintu lebih lebar dan memberinya jalan. Laki-laki itu masuk, lalu berdiri diam di samping pintu. Dania geli, menutup pintu lalu berjalan melewatinya ke dapur yang hanya dibatasi meja bar dari ruang tamu. “Mau minum? Tadi dari mana?” tanya Dania mencoba membuat suasana lebih hangat.
“Mm…”
“Nama kamu siapa?”
“Adit.”
Dania menghampirinya dengan secangkir kopi krim instan. “Suka kopi ‘kan?” katanya sambil menyodorkan cangkir itu. “Duduk dulu. Santai aja.” ia duduk, lalu menepuk tempat di sampingnya.
Adit berjalan pelan sambil membawa cangkirnya. Sebelum duduk, disimpannya ransel hitamnya di samping sofa. Begitu duduk, dihirupnya kopinya.
“Pertama kali?” tanya Dania santai. Lurus.
Adit tersedak. Kopi menciprat ke tatakannya. “Maaf…” katanya sambil meletakkan cangkir di meja lalu membersihkan kopi dari tangannya. Saat itulah Dania melihat cincin di jari manis kanannya. Cincin perak polos. “Sudah menikah?” tanyanya, tentang cincin itu.
“Iya.” Jawab Adit. Hampir seketika.
Dania bersandar. Ada yang aneh. Laki-laki di hadapannya ini. “Berapa tahun?”
“Apanya?”
“Menikah.”
“Oh. Mmm, enam tahun.”
“Wah…lama juga, ya?”
Adit sekarang bersandar juga, “Lumayan lah.”
“Umur kamu sekarang…?”
“Dua delapan.”
Dania mengangguk-angguk, menghitung dalam hati. Adit masih muda waktu menikah dulu. Lebih muda darinya yang sekarang 23. “Punya anak?”
“Dua. Laki-laki semua.”
“Kenapa kamu disini?”
Adit tersentak. Ia berpaling ke arah Dania. Menatap gadis itu, dan segera luruh dalam mata jernihnya yang begitu kanak-kanak. Rambut sebahunya jatuh lurus seperti air. Cantik dan halus. Melihatnya saja sudah menjelaskan mengapa fee-nya sedemikian tinggi.
“Ada apa dengan istri kamu? Ada yang salah? Tidak memuaskan?”
“Bukan…” ralat Adit cepat-cepat. “Bukan itu. Dia…”
“Kenapa?” Dania heran, buat apa dia menyatroni pelanggannya seperti itu. Kenapa dia perduli? Bukannya dia biasanya tidak pernah suka mengobrol dulu, dan bahkan ingin segera berakhir?
“Dia…mm…selalu tidak tenang.” Wajah bersihnya bersemu merah. “Membuat saya merasa seperti mesin.” Adit tersenyum getir.
Dania diam.
“Itu sebabnya saya disini. Saya mau santai.” Dia mulai kaku lagi, posisi duduknya jadi melengkung, seperti tenggelam di sofa. “Saya tidak berniat menyakiti perasaan istri saya…Bukan itu.”
Dania masih diam, bulu kuduknya meremang. Tiba-tiba dia tidak ingin Adit ada di situ, tiba-tiba dia cuma ingin menghabiskan malam bicara, mengorek-ngorek rahasia rumah tangga laki-laki di depannya, mencoba bersimpati. Apa saya masih punya perasaan? Batin Dania. Dirapatkannya cardigans putihnya.

Bubble bath, lampu yang berputar seperti caroussel, lilin-lilin wangi.
Cinta? Cinta kah? Atau perasaan ini telah tumbuh lebih dari sekedar kata keramat itu dan berkembang menjadi entah apa, tapi yang jelas melilitnya, membuatnya kecanduan dan meluangkan banyak waktu hanya untuk bertemu Adit. Makan siang, atau sekedar mendengar suaranya di antara dengungan lembut blower PC di ruang kerjanya.
“Kok masih kerja juga, sih? Nanti maag lho. Makan dulu lah.” Kata Dania lewat telpon. Terdengar suara tawa Adit yang dalam, “Iya, sebentar lagi. Kamu juga jangan lupa makan, ya?” Perhatian-perhatian yang standar tapi menyenangkan, dan Dania sudah bukan seorang profesional lagi.
Sudah beberapa bulan. Lalu, suatu malam ketika Adit kembali datang ke rumahnya sesudah gajian, Dania menemukan wajah yang asing. Mereka duduk di ruang tamu, sama-sama memegang cangkir kopi krim, tapi tanpa suara dan tawa lagi.
Sebenarnya Dania sudah tau, dia sudah bisa menebak, tapi penjelasan Adit selanjutnya membuatnya kaku.
“Istri saya tahu.” Ini yang tertebak. “Tapi, dia tidak marah,” Adit berdehem sejenak, “dia tidak mengajak saya bicara. Tiga hari. Saya tidak tahan diperlakukan begini.”
Dania menggigiti pinggiran cangkir keramiknya.
“Tapi…” laki-laki tinggi besar itu tertawa getir, “harusnya saya sudah tahu ini resikonya sejak awal saya menghubungi kamu, ya?” ucapnya retoris. Dia meletakkan cangkirnya, bersandar dan menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.
Kalau Adit orang lain, mungkin Dania sudah tertawa lebar, dan berkata, “Sukur!” Kalau ia tidak kenal istrinya Adit, dia mungkin sudah tertawa lebar…

Rabu malam di Ilalang. Rumah makan di pinggiran Bandung yang damai. Hangat dengan cahaya kuningnya dan lantai kayu. Dania sedang bersama seorang kliennya ketika ia melihat Adit masuk. Refleks, dia menutupi wajahnya dengan daftar menu.
“Dan?” si klien bertanya geli, “Kamu kenapa?”
“Ehh…” jantungnya berdebar-debar, mengintip sedikit, tapi Adit tidak melihatnya. Melirik ke arah mejanya pun tidak, padahal disitu cuma ada beberapa tamu saja. Pelan-pelan diturunkannya daftar menu dari wajahnya, seiringan dengan itu ia tahu kenapa Adit tidak melihatnya. Meskipun jarak meja mereka jauh, ia bisa melihat cahaya di mata laki-laki yang akhir-akhir itu membuat hatinya galau. Cahaya yang tak pernah ia dapatkan di mata yang sama jika menatapnya.
Hatinya remuk.
“Dania?” kali ini si klien menyentuh tangannya lembut. “Kamu baik-baik ‘kan?”
“Ehhh…iya. Maaf.” Dania berusaha tersenyum manis. Tangannya yang gemetar meraih gelas air putihnya.
“Kalau kamu nggak enak badan, kita bisa ketemu lagi lain kali.”
“Nggak…nggak papa…” Dania meyakinkan, menepuk-nepuk tangan kliennya. Ia perlu pelampiasan. Tidak akan ia biarkan dirinya sendirian malam itu mengingat-ingat cahaya di mata Adit. Ia perlu pelampiasan…menjijikkan. Sambil meneruskan makan, matanya sesekali mencuri-curi pandang ke meja Adit. Perempuan yang duduk di sana seperti berbalut selaput kaca. Tak tersentuh. Tak tersentuh duniaku…batin Dania, dan Adit menatapnya seolah-olah dia bidadari sekaligus satu-satunya perempuan di dunia. Membuat saya merasa seperti mesin…terngiang-ngiang lagi kata-kata itu. Dania tiba-tiba merasa muak. “Kita pergi sekarang?” tanyanya tiba-tiba sambil meletakkan serbet di sebelah piringnya. Tapi, ketika ia berdiri,

(di bagian ini kehapus virus. huaaaa!)

Menjelang pagi di hari Kamis selanjutnya, begitu ia sampai di rumah sepulang dari hotel, Dania menghambur ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower. Menggosok-gosok kulit mulusnya dengan shower puff, mencoba mencuci dirinya bersih dari tumpukan sentuhan begitu banyak laki-laki yang bahkan tak bisa ia ingat lagi nama-namanya. Ia menangis, jatuh berlutut, merasakan air shower deras menusuk-nusuk punggungnya.
Tiba-tiba ia ingin Adit melamarnya. Begitu ingin. Hidup damai dan ditatap seperti Adit menatap istrinya. Punya anak-anak yang lucu, melihat mereka pergi sekolah, mencium tangan dan pipi Adit sebelum ia berangkat kerja. Melengkapi hidupnya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bukan hanya beberapa jam di malam-malam ketika Adit tak ingin bercinta seperti mesin.

(to be continued…😀 )

3 thoughts on “Gelap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s