journal · travel

Camplong, pantai penuh kepiting

Ada sesuatu tentang pantai dan laut yang membuat saya jadi melankolis dan sentimental. Sesuatu tentang aromanya, pasirnya, warna airnya yang berubah di cakrawala, hamparan air yang tepinya tak terlihat, hembusan anginnya, rasa aneh ketika ombak menggerus pasir yang saya pijak, dan rayuan mistisnya yang kadang membuat orang secara tidak sadar berjalan makin ke tengah dan akhirnya tergulung ombak dan tenggelam.

This slideshow requires JavaScript.

Untung hari itu mendung waktu kami sampai di Camplong. Jadi bisa mengurangi risiko terbakar. Hehehe. Padahal setengah jam sebelumnya matahari masih garang. Pun waktu kami melintasi Jembatan Suramadu sekitar dua jam sebelumnya. Wih wih… jembatan satu itu memang bwaguuuus. Jadinya berenti di tengah-tengah cuma buat foto-foto. Ndeso puooolll. Hahaha. Sayangnya pas pulang (sekitar jam 19.00) batere kamera udah habis jadi gak bisa motret Suramadu yang pencahayaannya spektakuler. Warna-warni dan, karena waktu itu kebetulan ada awan di atasnya, terbias sampai ke langit. Canteeekkkk. Bangga lah Indonesia punya jembatan sebagus itu😀

Jarak Surabaya-Madura bisa ditempuh cuma dalam sepuluh menit lewat Suramadu. Lepas dari jembatan, langsung tampak jalan lurus sampai ketemu pertigaan ke arah Bangkalan dan Sampang. Kalau mau ke Camplong, belok ke kanan. Sepanjang perjalanan 60 km dari pertigaan menuju pantai, jalannya luruuuuuuuuuus terus. Madura adalah pulau yang sepi. Banyak sekali ladang, sawah, dan hutan. Kenapa orang-orang Madura tidak memberdayakan pulaunya? Kebanyakan malah menyebrang ke Jawa dan cari nafkah disana. Cuma ketemu dua pom bensin dan satu swalayan. Sisanya pertokoan dan pasar tradisional.

main pasir

Sampai di kota Sampang, ketemu pertigaan, belok kanan dan terus saja sampai ada Hotel Wisata Camplong. Itu dia gerbang masuknya. Sebenarnya begitu mendekati daerah pantai banyak akses lewat hutan bakau dan gang-gang diantara rumah-rumah penduduk. Tapi takut diclurit kalau main lewat gitu aja😀 Jadi lebih aman lewat gerbang resmi saja. Bisa parkir di luar hotel kalau tidak menginap. Di area Pantai Camplong, waktu itu, hanya ada beberapa toko suvenir yang buka. Ada yang jual batik Madura, kerajinan kerang, kaos… sepiiii… sisanya toko makanan. Mendekati pantai, pedagang es kelapa dan kawan-kawannya bertebaran. Tapi, tetep sepiii… saya pribadi gak kolu makan disitu. Kecuali minum air kelapa langsung dari batoknya😀

Pantai Camplong pasirnya mirip Parang Tritis; seperti lempung. Tapi ombaknya lebih tenang. Banyaaaaak sekali kepiting-kepiting kecil yang keluar-masuk lubangnya dan berlarian miring-miring. Esha sampai ketakutan. Tapi akhirnya dia mau turun dan mainan pasir, cuma dia gak berani masuk air. Mendung hari itu bikin cuaca lebih bersahabat tanpa mengurangi birunya langit. Pemandangannya indah, ada mercusuar dan perahu-perahu yang sedang sandar.  Sayangnya, yang mengganggu, ada sedikit sampah dan beberapa orang berkeliaran naik motor menjelang sore. Waktu kami bersiap pulang, kira-kira jam 17.00, orang-orang berpancingan baru turun ke pantai dan perahu-perahu di pinggir hutan sudah angkat sauh dan berlayar. Matahari yang sudah mau tenggelam mengiringi perjalanan pulang kami dengan terik sebelum akhirnya diganti bulan purnama besar yang bundar. Perjalanan antarpulau ternyata bisa semudah dan secepat itu!

Mudah-mudahan setelah ini bisa dapet kesempatan main ke pantai yang pasirnya putih🙂

3 thoughts on “Camplong, pantai penuh kepiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s