poem

Musim Angin

Menjelang sore, akhir-akhir ini, angin bermain seruling di belakang rumah. Lewat sepasang pohon cemara yang bergerak harmonis. Lalu ia berdenting di genta angin dan menyusup ke balkon merambati antena televisi. Saya suka ketika ia sepoi-sepoi melilit hawa panas dan membiarkan kami tidur siang dengan nyaman. Diiringi orkestra-nya.

Tapi, kadang-kadang, ia meradang. Serulingnya hilang berganti jeritan. Genta angin kami berputar-putar putus asa kehilangan nada di pusarannya. Saya berlarian menutup pintu-pintu, lalu mengajak si gadis kecil berpelukan dalam selimut. Siaran televisi porak-poranda. Siaran radio hilang dari udara. Atap fiberglass kami berkibaran seperti jubah siap terbang.

Lalu ia tenang ketika hujan meredakannya seperti selubung tirai.

Atau, sebaliknya, semakin kencang dan menjadikannya badai.

 

hari ketujuhbelas dari 365

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s