ABC mini challenge · romance · shorty

L untuk Lemon

If life throws you a lemon – make lemonade.

Joan Collins

Nama lahirnya Leo, tapi semua teman-temannya memanggilnya Lemon dan akhirnya saya pun begitu. Dia memanggil saya Manisan. Oh yeah, so sweet. Kami bertemu dua belas tahun yang lalu di suatu forum di internet, entah apa yang kami bicarakan waktu itu. Dia sedang membuat tugas akhir arsitekturnya, dan saya baru mulai kuliah. Tanpa bertemu, saya sudah tau dia seperti apa dan begitu pula sebaliknya. Kami sangat berbeda dan mirip pada saat yang bersamaan.

Bahwa dia melabeli dirinya sebagai atheis tidak membuatnya berhenti mengingatkan saya beribadah dan menemani saya makan sahur (lewat telepon, tentunya). Saya punya alasan untuk menyebut ketidakpercayaannya tidak berdasar, dan dia bisa bilang agama hanya untuk orang-orang yang berbuat baik karena takut. “Jangan pake helm hanya karena takut ditilang polisi.” katanya. Tapi kami tetap dekat dan bisa bicara apa saja tanpa kemudian jadi sensitif atau kuatir memasuki area-area yang terlalu ‘asasi’. Saya tidak akan merubah apa yang tidak dia percaya karena hati saya belum pergi sejauh itu.

Bahkan untuk bertemu pun saya belum punya nyali. Meskipun saya dan dia sudah tau pasti siapa yang akan kami temui. Mungkin karena kami tau saat kami bertemu, saat itu pula kami akan berpisah. Tapi kami harus. Maka Minggu siang itu kami bertemu untuk pertama kalinya setelah lebih dari lima bulan hanya bertukar suara dan e-mail (tanpa foto). Laki-laki kurus tinggi berkacamata dengan mata sipit yang ramah berdiri di depan pintu menjemput saya. Dia berusaha tidak menatap mata besar saya berlama-lama kecuali saat kami bersalaman. Oh, kopi dan susu… ketika tangan kami bertaut. Joke kami selama ini sungguh nyata adanya. Kenapa dulu kami bisa mentertawakannya tapi sekarang jadi tidak lucu lagi? Di perjalanan ke bioskop kami bicara ini dan itu tapi rasanya sudah jauh berbeda. Semakin tidak menyenangkan ketika kami sampai di antrian tiket dan dia bertemu sekelompok teman-teman kuliahnya. “Sama siapa, Le?” tanya mereka. “Sama… uh… temen.” katanya menunjuk saya. “Oh…” kata mereka, dan ya, saya tau mereka pasti punya banyak pertanyaan untuk Lemon yang tidak akan pernah mereka tanyakan. Saya permisi ke toilet, menenangkan diri dan memberinya waktu dan ruang untuk tidak terlihat bersama saya di antrian yang begitu panjang. Kami berbeda. Sebesar apapun hati kami untuk mengakuinya, kami tidak akan bisa membawanya diluar dunia kami berdua, dan saya -pribadi- memaki diri sendiri untuk kepengecutan itu. Karena saya tau tidak ada apapun tentangnya yang tidak bisa saya terima, tapi kami resistan ketika harus berbaur dengan dunia yang bersilangan.

“Terima kasih.” adalah apa yang kami saling ucapkan terakhir kali ketika saya menutup pintu mobilnya. Setelah itu, tak ada lagi. Sama sekali. Dan perpisahan tanpa rasa benci adalah yang paling menyesakkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s