motherhood · shorty

ke(mati)an

Saya ingat, dulu sekali, sebentar setelah eyang putri meninggal, ada episode dimana saya selalu mengawasi ibu saya ketika sedang tidur. Memperhatikan nafasnya. Memastikan dadanya naik turun teratur dan tidak dicuri kematian dalam lelapnya. Tentu saja akhirnya saya ketiduran dan ibu selalu bangun lebih awal dari saya. Sekarang saya tau semua orang tua akan sampai pada saat ia harus menjelaskan konsep tentang mati pada anaknya sekaligus mengingatkan dirinya sendiri. Ayesha sudah mulai bertanya soal ini sejak beberapa bulan lalu waktu dia penasaran apa yang terjadi kalau orang sudah terlalu tua.

Bill -di film Kill Bill vol.2- memperkenalkan konsep kematian pada anaknya lewat ikan peliharaan. Membiarkan ikannya dikeluarkan dari air sampai berhenti bergerak. Lalu dia akan bilang; demikianlah, bahwa hidup dan mati itu sedekat dua sisi satu koin. Tapi, tentu saja, yang dia ajarkan itu adalah, sebenarnya, pembunuhan. Tapi, lagi, Bill benar bahwa kematian sejatinya memang dekat. Ada orang tua yang menganggap ‘mati’ adalah hal yang terlalu mengerikan untuk dijelaskan pada anak-anak. Terlalu gelap. Tapi kenapa? Padahal ia hanyalah cara alam untuk menyediakan ruang untuk makhluk yang baru. Bukankah ketika daun dan bunga gugur mereka juga mati? Orangtua harus tau bahwa anak-anak seringkali lebih pintar dari yang mereka pikir. Anak-anak mampu memahami logika dan tidak seharusnya dibohongi. Jelaskan saja apa itu mati. Apakah kemudian secara ilmiah atau agama atau keduanya, itu terserah orangtua.

Intermezzo, jika anda tinggal di Surabaya, orang-orang akan bilang mati sebagai mati dalam bahasa sehari-hari. Jarang diperhalus dengan ‘meninggal’. Jadi, demikianlah adanya. Telak.

Maka saya dan ayahnya kemudian bercerita tentang orang-orang tua yang meninggal dan bayi-bayi yang lahir bahkan bayi-bayi yang meninggal sebelum sempat menjadi tua. Esha berlanjut dengan ‘kenapa-kenapa’-nya yang lain. Kami bilang kadang-kadang orang bisa terlalu sakit dan tubuhnya tidak bisa lagi membantunya hidup (karena saat itu dia sudah tau tentang jantung dan otak) maka meninggal adalah cara bagi tubuhnya untuk berhenti bekerja. Tentu setelah ini ada chapter-chapter lanjutan sesuai iman masing-masing orangtua. Esha belum sampai pada pertanyaan “apakah mati itu menyakitkan?” tapi dia sudah sampai pada pernyataan “ibu jangan tua. kalo ibu tua terus mati, Esha gimana?” itu adalah episode dimana dulu saya tidak bertanya tapi mengawasi nafas ibu. Jawaban saya; “Jangan kuatir. Itu masih lamaaaa sekali.”

Di film Born Romantic, karakter Jocelyn adalah pengidap morbiditas akut yang paranoid akan kemungkinan untuk mati setiap saat. Akibatnya dia hidup dalam ketakutan dan kesedihan. Itu contoh yang buruk. Oke, kematian memang penuh kejutan dan bisa datang kapan saja, tapi itu seharusnya membuat hidup dihargai dengan benar karena entah kapan ia berakhir. Saya berharap Esha akan tumbuh dengan pemikiran itu tanpa meninggalkan impiannya akan Taman Firdaus yang berair mancur gula.

Terakhir, mengutip satu tweet dari @BonsaiSky: tidak seorangpun boleh berkata “dia akan masuk neraka” karena itu berarti mendahului ketentuan yang hanya Tuhan yang tau.

Carpe Diem🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s