bahasa Indonesia · galau · journal · romance

Selepas Ramadan

image

Kekhusyukan beribadah adalah kemewahan yang tak terbeli. Tak ternilai. Ia yang memilih pada siapa-siapa saja kenikmatannya datang. Lalu saya menciut karena hati yang belum diberi. Jelaslah saya belum cukup pantas untuk itu.

Setiap hari saya belajar memahami bahwa cinta harus datang dari hati. Tanpa pamrih. Tanpa pengharapan berlebih. Kecuali keinginan untuk tersampaikannya rasa pada yang dicinta. Melangut hati membaca cerita-cerita cinta pada Tuhan. Malam-malam dimana mereka menggelar percakapan intim diatas sajadah. Hanya mereka dan Sang Maha Segala. Meleleh hati mendamba.

“Kalau kau bisa bangun semalaman untuk menonton film, kenapa mengantuk bila akan salat malam?”

“Kalau kau mampu meninggalkan segala urusan saat kekasih memintamu datang, kenapa menunda bertemu Sang Maha Pengasih bila adzan memanggil?”

Dunia cuma seujung kuku, kamu tahu. Tapi dijunjung bagai jagat raya. Sementara keabadian yang tanpa akhir diletakkan paling pinggir.

Saya ingin akan jatuh cinta sepenuhnya. Memantaskan diri untuk bisa merasakan nikmat beribadah yang Tuhan tak sembarang alirkan ke tiap-tiap hati. Bahkan bila bukan Ramadan.

2 thoughts on “Selepas Ramadan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s