bahasa Indonesia · fiction · movie

2/14: Simpang Akhir 9 Naga

“Bang, gua ikut ke dalam, bang…” kata Lenny setengah memohon pada Marwan.

Marwan menoleh, berbalik pelan sambil meletakkan karung terigu di dekat kakinya lalu menarik dua pundak Lenny dan memeluknya erat-erat. “Lo harus kuat. Harus jadi Lenny.” bisiknya. Sebentar kemudian dia sudah pergi menghilang di balik gerbang gudang.

Mata Lenny berair, rahangnya mengeras. Dua tangannya mengepal di samping tubuh kecilnya. Dia menghitung dari saat Marwan tak tampak lagi sambil berjalan mundur ke arah mulut gang. Lalu… dor! dor! dor! Tiga tembakan beruntun menggaung dari gudang. Memecah sepi. Lenny spontan menutup kedua telinganya, berbalik dan berlari sambil menangis sejadi-jadinya. Sekuat tenaga kembali ke rumah Marwan.

“Mbak! Mbak Ajeng!” panggilnya sambil mengetuk pintu rumah petak di pojokan gang itu. “Mbak!” ulangnya.

Ajeng bergegas bersusah payah naik ke kursi rodanya dan bergerak ke pintu depan lewat lorong sempit di rumahnya. Begitu kunci dibuka, Lenny tersungkur sambil memegangi dua kakinya. “Maafin aku, mbak. Aku nggak bisa jaga Bang Marwan.” isaknya. “Kamu kenapa? Bang Marwan kenapa?” Tanya Ajeng bingung dan panik.

Lenny mengulurkan amplop lecek ke pangkuan Ajeng. Sambil gemetaran, dibukanya amplop itu.

“Istriku Ajeng,
Manusia terkuat yang pernah kukenal.
Terimakasih untuk rumah terindah yang pernah aku tempati. Terima kasih telah memberi maaf sebelum aku meminta. Terima kasih untuk bersabar, sampai aku tahu, kalau hal-hal terbaik dalam hidup tidak memerlukan uang. Seperti bunyi suaramu yang selalu setia. Menuntunku, pulang ke hatimu. Rumahku yang terindah.”

Suamimu, Marwan”

Airmata Ajeng mengalir deras, tangisnya sudah tak bersuara lagi. Tubuhnya menggigil.

“Kita harus pindah malam ini juga, mbak. Biar aku bantu ambil barang-barang.” Kata Lenny sambil bergegas memasukkan apa saja yang ada di lemari baju Ajeng ke dalam sebuah tas besar. Lalu dipindahkannya si kecil dari tempat tidur ke pangkuan ibunya di kursi roda. Dimatikannya semua lampu lalu terburu-buru dibawanya Ajeng ke kontrakannya. “Untuk malam ini mbak Ajeng di tempatku dulu. Besok aku bawa ke rumah yang dititipkan Bang Marwan.”

Subuh baru saja usai, Lenny kembali dari masjid cepat-cepat. Dibangunkannya Ajeng dan sekali lagi terburu-buru mendorongnya dan si kecil yang masih tertidur di pangkuan ke jalan raya.

“Kita mau kemana, Len?” Tanya Ajeng. Matanya masih sembap, mukanya pucat.

“Bang Marwan kasih aku kunci dan alamat kemarin, sebelum…” Lenny menelan ludah. “Kita kesana.”

Jalanan masih lengang. Lenny terus mendorong kursi roda Ajeng melewati ruko-ruko yang masih tutup sampai masuk ke gerbang sebuah perumahan baru. Terus hingga ke sebuah cluster dan menuju ke rumah cul de sac di samping danau buatan. Mereka berhenti di depan pagarnya. “Ini apa, Len?”

“Ini…” Lenny melihat ke sekeliling, kepalanya pening. “Ini titipan bang Marwan buat mbak Ajeng. Buat si kecil juga.” Lenny tersenyum sambil mengacak rambut Ade yang masih juga pulas. Lenny menggeser pagar, mendorong Ajeng masuk ke driveway sampai ke teras. Dikeluarkannya anak kunci dari saku celananya. “Abang…uang siapa elu pake buat beli rumah begini…” gumam Lenny sambil meraih gagang pintu. Bersamaan dengan itu pintu dibuka dari dalam.

Kunci di tangan Lenny jatuh berdenting, Ajeng mencengkeram pinggiran roda kursinya.

“Aku senang kamu pulang, Jeng.” Marwan tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s