bahasa Indonesia · book · review

3/14: Ulasan Buku – Ashabul Kahfi, Ketika Neurosains dan Kalbu Menjelajah Al-Quran

Image

Saya senang sekali challenge review ini pas di hari Jum’at, karena bertepatan dengan tema buku yang akan saya ulas. Jum’at adalah hari dimana surat Al-Kahfi sebaiknya dibaca, seperti yang disunnahkan Nabi Muhammad SAW. Kenapa? Karena kedahsyatan kandungannya. Sepuluh ayat pertamanya bisa melindungi kita dari fitnah.

Salah satu obat hati adalah membaca Quran dan maknanya. Baca, kaji, pahami, dan amalkan. Salah satu surat yang sering dibaca ulang adalah surat ke-18, Al-Kahfi. Berkisah tentang kebesaran Allah dalam “menidurkan” tujuh pemuda dalam sebuah gua selama 309 tahun untuk melindungi mereka dari kejaran musuh yang ingin membunuh mereka disebabkan keteguhan hati mereka yang tidak mau menyeru kepada Tuhan lain selain Tuhan Semesta Alam (QS 18: 14-16).

Saya suka buku ini karena menegaskan; berpikirlah, maka itu akan membuat kamu berdzikir. Manusia diberi kelebihan akal agar mampu merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya, dan itu disebutkan berkali-kali dalam Quran. Diantara begitu banyaknya hal-hal menakjubkan yang dipaparkan dalam Quran, Nadirsyah Hosen dan Nurussyariah Hammado memilih untuk membedah tentang Ashabul Kahfi yang sesuai dengan bidang keahlian dokter Nurussyariah yang adalah pakar neurosains. Mereka bicara tentang bagaimana tidurnya para pemuda ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah. Tak ada habisnya, tak ada tepinya, dan tak ada yang sulit bagi-Nya.

Saya suka buku ini karena mengajak umat Islam untuk jadi lebih cerdas dan berilmu.

“Imam al-Ghazali dalam Ihya (1/78) mengingatkan kita semua bahwa, “Tidaklah disebut orang alim (pintar), jika pekerjaannya (hanyalah) menghafal (teks-teks), tanpa kemampuan mengkaji dan menggali rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya.”

Kemudian kita akan tahu, setelah membaca dan memahami Quran, bahwa ia adalah induk dari segala referensi. Ia membuat kita belajar dan belajar lagi untuk bisa paham secara utuh tentang kehidupan dan alam semesta.

Nadirsyah dan Nurussyariah juga menulis biografi singkat tentang beberapa ilmuwan besar yang lahir dari inti Quran, seperti Ibnu Sina, Sayyidah Nafisah, Rumi, dan banyak lagi. Yang kemudian membuat kita rindu untuk punya pemikir-pemikir besar seperti mereka lagi. TIdak usah jauh-jauh, dimulai dari diri sendiri saja dulu. Belajar memperkaya diri secara seimbang, belajar menerapkan dasar-dasar kebaikan sambil tetap membuka diri pada ilmu pengetahuan agar tidak mudah diombang-ambing dan akhirnya tersesat.

Buku ini sebenarnya buku gado-gado, isinya banyak tapi padat. Bukan hanya tentang Ashabul Kahfi, tapi juga perenungan-perenungan lain tentang hal-hal yang biasa ditemui dalam keseharian. Perbedaan pendapat, kekuatan niat, istiqomah yang menguatkan otak, puasa, shalat, dan beberapa tulisan pendek yang indah-indah dan puitis tentang kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Ada juga beberapa bagian yang terlalu berat buat saya, tapi disitulah kelebihan buku ini: ada perpaduan yang pas dari kedua penulis. Maskulin, feminin. Keras, lembut. Berat, ringan. Ini adalah buku yang saya rekomendasikan untuk semua, terutama generasi muda Islam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s