movie · review

Perfume (2006)

image

Telat banget, baru nonton filmnya sekarang. Bukunya mah udah, excerpt-nya aja tapi *plak*.

Kita semua pasti setuju bahwa aroma bisa membangkitkan kenangan. Indra penciuman kita begitu hebat sampai bisa menggali memori yang bahkan sudah begitu dalam tertimbun. Saya suka bau kertas, dan secara spesifik jenis kertas dan tinta tertentu akan membawa saya ke jalan Banceuy di sore akhir pekan saat masih SMA untuk berburu majalah impor dengan harga super miring. Bau pemoles marmer mengingatkan saya pada masa awal kehamilan yang penuh morning sickness. Daaannn banyak lagi bau-bauan dan kenangan lainnya.

Ibu saya selalu ingin bisa menyimpan bau bayi ke dalam botol, dan inilah Perfume.

Jean-Baptiste dilahirkan di pasar dan dikaruniai penciuman yang maha dahsyat. Dia tau aroma dari tiap benda di dunia. Besi, lumut, kodok, endorfin… you name it. Diantara semua aroma, kulit wanita tertentu punya wangi yang paling dia suka. Membuat dia tergila-gila dan keukeuh untuk mengawetkannya dalam botol. I would understand. Aroma kulit memang sangat enak. Kulit sejati. Tanpa sabun, lotion, cologne. Tapi bukan BB juga. Ew. Aroma kulit yang rileks, seperti saat baru bangun tidur, itu enak sekali. Well, Jean-Baptiste melampaui batas waras tentang yang satu ini.

Ini film naratif yang bagus dengan ending yang twisted – untuk mereka yang belum baca bukunya. Tontonlah, kalau belum. It will make you think.

The power of controlling love is the greatest and saddest power altogether.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s