bahasa Indonesia · motherhood

Mencintai Sewajarnya

image

Saya sayang kucing-kucing saya. Tapi juga masih cukup waras untuk membuat batasan yang jelas tentang siapa mereka, dan siapa saya. Tentu ada alasannya kenapa pemilik kucing disebut “her human”, supaya mereka tidak mencampuradukkan nature satu sama lainnya.

Beberapa hari lalu, saya memutuskan untuk tidak lagi jadi bagian dari sebuah grup pecinta kucing. Padahal hampir setiap hari saya berdiskusi panjang lebar disana mulai dari kutu sampai panleukopia. Tapi kemudian beberapa posting mulai jadi disturbing buat saya pribadi. Seperti… ah, ga tega nulisnya. Seperti… menyusui kitten yang ditinggal induknya, merelakan diri hanya makan dengan garam demi membeli sekantong Royal Canin, atau debat kusir tentang ras akibat fanatisme pada satu jenis tertentu. Ya, rasis juga ada di dunia perkucingan. Apa guna? Kucingnya aja ga mempermasalahkan bulu mereka panjang atau pendek, hidung mereka pesek atau mancung, mereka datang dari keturunan apa… kenapa manusianya yang jadi ribut? #plisatuhlah . Dan banyak lagi yang bikin saya bergidik sekaligus nepok jidat. Ya sudahlah, daripada terganggu, saya keluar saja.

Kucing memang menginvasi dunia manusia. Mereka yang tidak suka kucing akan bilang mereka cuma binatang pemalas yang tidak bermanfaat. The truth is, kucing memang akan menjadikan manusia staff mereka. Menyerok kotoran, mengisi mangkuk makan dan minum, menyisir bulu mereka dua hari sekali, membuatkan ranjang yang nyaman, memilihkan shampoo dan dokter terbaik.. lalu sebagai balasannya, mereka menggaruk furnitur, memecahkan pajangan, meninggalkan bulu di baju kesayangan, dan mengeong semalaman. Tapi, sungguh, mereka terlalu lucu untuk tidak dilayani dan dimaafkan. Hiks. Mereka membuat mood buruk jadi baik, dan percaya atau tidak – mereka bisa merasakan suasana hati. Kalau pemiliknya sedih, si meong akan datang menemani sambil menatap dengan mata lucunya. Awwhhh…

Saya sering memanggil Chiko & Misty dengan sebutan “nak”. Tapi saya tetap ibu hanya untuk Ayesha. Saya juga sering mengingatkan Esha kalau dia sudah mulai berlebihan tentang menganggap kucing-kucing kami adiknya. Boleh cinta, tapi jangan sampai buta.

One thought on “Mencintai Sewajarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s