bahasa Indonesia · motherhood

Saatnya Duduk dan Diskusi

image

Salah satu hal yang paling melegakan untuk orangtua adalah ketika anak-anak mereka mau terbuka, berbagi, dan percaya bahwa orangtua mereka punya jawaban dari semua pertanyaan. Saya bersyukur Esha selalu bercerita tentang banyak hal, tapi kami juga sudah sampai ke tahap dimana pertanyaan-pertanyaannya semakin kompleks dan membuat kami berdiskusi panjang sekaligus membuat saya merasa kurang ilmu😥

Suatu hari, Esha bawa botol Chewbacca ke sekolah. Pulangnya, dia bilang “Bu, kata Haris ini botol bukan untuk anak perempuan. Aku nggak ngerti, kenapa harus ada barang-barang untuk perempuan dan laki-laki. Ada juga laki-laki yang suka pake baju pink, kan? Dan aku nggak suka pake rok.” Lalu dari situ kami bicara tentang stereotype. “Aku nggak mau gitu.” (maksudnya, nggak mau mengkotak-kotakkan orang) Saya bilang, itu bagus. Semua orang unik, dan menilai orang dari ‘label’-nya tentu tidak adil. And I should practice what I preach.

Dia juga sudah sampai ke pertanyaan tentang bagaimana perempuan bisa haid setiap bulan. Saya terangkan sejauh yang saya tahu, yang juga menyinggung tentang terjadi atau tidaknya pembuahan. Maka, tentu, dia jadi tanya juga bagaimana pembuahan terjadi. Bagaimana caranya sperma bisa sampai ke sel telur. Ini seharusnya bukan pertanyaan horor atau tabu, karena cepat atau lambat anak-anak pasti harus tahu faktanya. Percaya atau tidak, saya tidak pernah membahas ini dengan ibu saya. Dulu, saya tahu tentang haid dari bonus booklet di majalah langganan (Kawanku). Entah kenapa, tapi dulu saya memang tidak pernah ingin tahu kenapa perempuan haid atau kapan ibu saya mengalami siklusnya. Jadi, saya bersyukur bisa jadi orang pertama yang bisa menerangkan tentang ini pada Esha.

Pertanyaan lain, yang masih gantung, adalah “Kapan manusia ada? Sejak jaman manusia purba atau sejak Nabi Adam diciptakan?” Sebagai Muslim, tentu saya akan merujuk pada Qur’an, tapi lalu ada lanjutannya, “Kalo gitu, kalo bukan manusia, dulu manusia purba itu apa? Monyet?” dan itu jadi PR buat saya untuk menjelaskan tentang missing link dan bagaimana iman harus jadi landasan untuk ilmu. Untuk saat ini, jawaban saya adalah, “Manusia bisa disebut manusia kalau dia berakal. Artinya, nggak telanjang seperti manusia purba. Jadi, sebutan manusia dulu itu sekedar panggilan aja, karena mereka lebih pintar dari monyet. Tapi manusia yang sebenarnya baru dimulai waktu Nabi Adam diciptakan.” Jawaban saya diduga ngawur, kan? So, yes please, correct me 😅

Masih banyak lagi obrolan-obrolan seru kami, dan Esha adalah teman diskusi yang menyenangkan karena dia terbuka pada penjelasan-penjelasan selain yang dia percaya. Iya, anak-anak sekarang sudah jauh lebih pintar. Mereka tidak layak diberi jawaban “aman” hanya karena orangtuanya takut untuk bicara tentang kebenaran. Saya ingin Esha selalu mempertanyakan segala hal dan mencari tahu sendiri jawaban yang paling benar. Jangan sampai anak-anak kita nanti termasuk mereka yang klik like dan ketik aamiin kalau mau selamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s